Monday, 4 January 2016

Pengaruh Repetisi Media Televisi dan Internet Terhadap Pemikiran Manusia: Pemberitaan ISIS

Oleh: Raga Adi Nurrohman
 
     Di zaman yang modern ini, manusia telah mengalami peradaban yang sangat maju. Semua peradaban yang maju ini disebabkan oleh sebuah hal yang telah berjalan berabad-abad lamanya, apa itu? Dia adalah teknologi. Teknologi di zaman ini secara umum memang tidak dapat dikatakan sebagai teknologi termaju, karena teknologi sendiri bersifat dinamis, artinya selalu berubah-ubah sepanjang masa, selalu berkesinambungan, selalu bertambah maju. Namun, teknologi di zaman ini secara khusus dapat dikatakan sebagai teknologi termaju pada zamannya. Kita dapat melihat banyak contoh mengenai kemajuan teknologi di zaman ini, beberapa contoh yang tentu kita semua ketahui adalah media televisi dan internet.
 
     Pada awal hingga pertengahan abad ke-20, televisi masih sebatas tabung ‘hitam putih’. Bukan televisinya yang hitam putih, melainkan channel yang ditampilkan di layar tidak ada satupun yang berwarna selain hitam putih. Televisi pada saat itu masih gemuk, belum setipis televisi di zaman sekarang, walaupun di zaman sekarang kita masih bisa menjumpai televisi-televisi tabung di banyak rumah. Hingga ketika pertengahan abad ke-20 hingga abad ke-21 sekarang ini, televisi mengalami kemajuan, termasuk pula internet. Dahulu televisi merupakan tabung yang besar dan memiliki antena di atasnya. Selain itu, untuk berpindah dari satu channel ke channel lainnya pemiliknya harus memutar-mutar putaran seperti putaran yang dimiliki radio, hingga mendapatkan channel yang pas dan terkadang pemiliknya harus dengan jeli mengutak-atik antena televisi tersebut agar mendapatkan kejernihan channel yang diinginkan. Namun itu dulu, sekarang lain lagi ceritanya. Sekarang ia memiliki body yang langsing, tipis, dan memiliki banyak fitur di luar koridor kegunaan televisi itu sendiri. Channel yang ditampilkan sekarang juga berwarna, sehingga yang ditampilkan serasa lebih hidup. Untuk medapatkan channel sekarang tidak harus memakai antena dan parabola lagi, karena di zaman ini telah ditemukan teknologi terbaru untuk mendapatkan channel yang bersih, jernih, dan tajam serta bebas gangguan, yakni dengan menggunakan sambungan kabel fiber optik yang kemudian dihubungkan ke televisi melalui panel input di belakang atau samping televisi.
 
     Dari uraian yang sesederhana itu saja, kita sudah bisa mendapatkan gambaran di dalam pikiran kita bahwa teknologi di zaman ini benar-benar teknologi termaju pada zamannya. Itu baru televisi, belum sampai membahas internet. Tapi, untuk membatasi judul yang saya tulis, saya mengakhirkan bahasan teknologi sampai di sini dan saya akan melanjutkan ke penulisan berikutnya.
 
     Ketika kita telah mengetahui kemajuan teknologi di zaman ini, tentu kita dapat mengambil banyak buah pertanyaan yang kritis. Saya sendiri mengambil satu pertanyaan, sebenarnya apa pengaruh yang televisi dan internet berikan kepada pemikiran manusia? Lebih tepatnya lagi, pengaruh repetisi dari media-media yang ditampilkan di televisi dan internet. Mengapa saya mengkhususkan pada kata repetisi? Karena seperti yang kita ketahui, salah satu kebiasaan media-media di televisi dan internet adalah, ketika ada satu berita yang menjadi topik, maka itulah yang akan mereka beritakan terus-menerus dan berulang-ulang, ditonton oleh milyaran manusia di dunia. Karena repetisi inilah, sesuai sifat alamiah manusia, apabila manusia melihat sesuatu (melihat termasuk pekerjaan) secara berulang-ulang dan secara terus-menerus, maka akan membekas di pikiran manusia dan bila ‘ditelan’ hingga dalam-dalam tanpa dasar pemahaman yang baik, itu akan mempengaruhi pemikiran manusia itu sendiri.
 
     Dalam ulasan kali ini, saya mengambil satu contoh pemberitaan melalui media televisi dan internet, yakni tentang ISIS, yang sudah sejak lama hingga kini masih menjadi salah satu pemberitaan yang cukup mengguncang dunia dan bisa dikatakan menjadi salah satu topik yang trend.
 
     Dari pemberitaan tersebut, saya membuat satu penelitian apakah pengaruh pengulang-ulangan atau repetisi yang ditampilkan media-media melalui televisi dan internet berkenaan dengan ISIS cukup memengaruhi pemikiran para responden saya. Baik yang ISIS lakukan maupun atribut yang dibawanya, apakah itu benar-benar mempengaruhi pemikiran mereka atau tidak. Berkenaan dengan hal tersebut, saya sudah menanyakan pertanyaan yang sama kepada 10 responden saya. Berikut pertanyaan yang saya berikan kepada 10 responden saya.
 
Apa yang Anda pikirkan ketika Anda melihat gambar ini? Ungkapkan secara jujur!

     Dari pertanyaan tersebut, saya mendapatkan jawaban yang bervariasi dari 10 responden yang telah saya pilih dan tentunya telah saya rahasiakan namanya. Ada yang mencengangkan dan melegakan bagi saya. Berikut ini adalah jawaban-jawaban yang sebenar-benarnya tanpa adanya perubahan konteks dari para responden terhadap pertanyaan saya.

No.
Jawaban
Pengelompokan Jawaban
1.
Kaligrafi Kaligrafi
2.
Islam, ISIS, Perjuangan Tauhid
3.
Cap Rasulullah Cap Rasulullah
4.
La ilaha illallah Tauhid
5.
Yg ku pikirkan arti dari itu . Tiada tuhan selain Allah itu aja hm.... Tauhid
6.
Ini bendera yg dipake rasulullah ketika perang yg skrg disalah gunakan sama isis.-. Perjuangan
7.
Pas aku liat gambanya aku fokusnya ke Lailahailallah sama tulisan Allah Kalo aku sih mikirnya disitukan backgroundnya itam.. nah kan ada tuh lingkaran putih yg di dlmnya ada tulisan Allah, rasul, sama muhammad aku sih mikirnya kalo di antara kegelapan itu ada cahaya kalo kita ngikutin ke 3 itu yg ada di lingkaran putih Tauhid
8.
Isis.. Pembunuh, Perusak, Harus di hancurkan


ISIS
9.
Tiada tuhan selain allah swt dan rasulnya itu nabi muhammad s.a.w Tauhid
10.
Aku liat itu yang Kalimat "La ilaha illallah" dan sedikit bingung Tauhid
 


     Dari hasil penelitian di atas, saya dapat katakan bahwasanya 6 dari 10 responden menjawabnya dengan kaitan Tauhid, 1 dari 10 orang menjawabnya dengan kaitan ISIS, 1 dari 10 orang menjawabnya dengan kaitan perjuangan, 1 dari 10 orang menjawabnya dengan kaitan Kaligrafi, dan terakhir 1 dari 10 orang menjawabnya dengan kaitan Cap Rasulullah saw.
 
     Dari hasil penelitian sederhana saya di atas, saya sangat bersyukur bahwasanya mayoritas responden saya menjawab dengan benar, dan bisa saya yakini bahwa mereka sangat kecil kemungkinannya terpengaruh repetisi atau pengulangan media dalam memberitakan ISIS. Karena setelah para responden saya memberikan jawaban, saya selalu menanyakan apakah pemikiran mereka ada terpaut dengan ISIS? Mereka semua menjawab tidak kecuali responden nomor 2 dan 8. Setelah mereka menjawabnya, saya pun meluruskan mereka dengan memberikan informasi yang sesungguhnya. 8 dari 10 orang atau 80% responden saya menjawab dengan jawaban yang benar dan sangat baik, sangat-sangat tidak terpengaruh dengan repetisi media-media televisi dan internet atas pemberitaan ISIS. Ini tentu dengan ditopang dasar mereka yang bagus akan pemahaman terhadap gambar yang saya tanyakan yang mana gambar itu digunakan sebagai bendera oleh ISIS. Sebagai informasi, sebenarnya lambang dan tulisan yang ada pada bendera yang ISIS klaim tersebut, aslinya adalah berisi kalimat Tauhid yang mulia, dan di bawahnya adalah lambang cap atau stempel Rasulullah saw. Namun, ISIS telah mengotori kalimat dan lambang yang mulia itu sebab mereka mengklaim kalimat dan lambang tersebut menjadi bendera mereka, na’udzubillah. Walau mereka mengotori keduanya, kedua-dua itu tidak akan pernah bisa menjadi kotor karena keduanya adalah sangat-sangat mulia dan merupakan kalimat yang tinggi.
 
     Dari hasil penelitian di atas tersebut saya juga bisa mengambil kesimpulan bahwa pengaruh repetisi media-media dari televisi maupun internet sangatlah besar, kita bisa melihat bagaimana responden nomor 8 berpendapat. Tanpa saya ulas lebih jauh lagi, saya yakin para pembaca bisa mengerti seberapa kuat media itu memengaruhi manusia bila manusia tidak memiliki dasar yang kuat.
 
     Oleh karena itu, dari hasil penelitian yang sederhana ini, saya berharap agar kita semua jangan sampai tersuntik dengan pemikiran-pemikiran yang buruk melalui media, jangan sampai termakan omongan beberapa wartawan yang tidak bertanggung jawab dalam memberikan informasi, sehingga bisa menimbulkan fitnah. Syukur jika orang yang terlanjur termakan media itu bisa diluruskan, namun akan menjadi fitnah dan bahaya yang sangat besar jika orang tersebut tidak mau diluruskan dan cenderung mempertahankan pendapatnya yang berdasar dari pemberitaan media-media dari televisi maupun internet tersebut.
 
     Teknologi yang maju akan membawa manfaat yang besar dan mudharat atau masalah yang besar pula. Jika manfaat tinggal diambil saja, maka beda halnya dengan mudharat yang harus kita bendung. untuk membendung mudharat agar tidak masuk, diperlukan keimanan yang kuat, dasar wawasan yang luas, dan rajin tabayyun (mencari kebenaran satu informasi hingga akurat dan benar-benar mendapatkan info yang benar) sebelum menelannya mentah-mentah.
 
     Saya akhiri dengan kalamullah:
 
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
[QS. Al-Hujurat/49:6]

0 comments:

Post a Comment

Kritik & Saran Anda sangat Saya Butuhkan.. Silahkan berkomentar dengan Bahasa yang Sopan. Komentar tidak boleh mengandung unsur pornografi, atau link hidup. Terima kasih.